H-2 menuju acara grand opening grage city
cirebon, konsep perform belum fix sempat membuat kami panik. Tapi dengan
bantuan teman-teman dari komunitas kandang urang yang ada di desa majasuka
akhirnya kami bisa membuat konsep yang sederhana tapi berisi.
Karinding
sarasa feat. Teater kandang urang itu konsep perform kami di acara grand
opening grage city cirebon pada tanggal 2 juni 2014.sempat khawatir juga dengan
konsep tersebut, karena kami hanya punya waktu 2 hari untuk membuatnya. Dari instrumen musik yang belum fix sampai anak
teater yang belum sempat latihan sama sekali. Tapi alhamdulillah nya konsep
tersebut bisa ditampilkan dan dapat menghibur penonton yang hadir.
Alur perform ;
02 juni
2014 pukul 19.30 WIB kami tiba di grage city cirebon dan langsung chek sound
sesuai instryksi dari abah deden selaku penyelenggara acara tersebut. Setelah
chek sound yogi yang menjadi pembicara kami mengucapkan salam pembuka dan
memperkenalkan dir, Setelah itu kami langsung memainkan instrumen pertama yaitu
RAJAH. RAJAH sendiri kami belajar dari Karinding akar awi yang notabene menjadi
guru kami dari nol.
Setelah
rajah selesai kami di tantang abah deden untuk memainkan musik yang pop sunda.
Sempat kaget juga dapat request dari abah, tapi tanpa banyak berfikir yogi
langsung menginstruksikan kami untuk memainkan musik pop sunda yang berjudul
KABAYA BEUREUM. Abah dan penonton ikut bernyanyi dan brgoyang (ngibing)
mengikuti musik kami sampai selesai.
Tak
terasa lagu KABAYA BEUREUM selesai kami bawakan dan tiba-tiba abah deden kembali
meminta kami untuk memadukan musik karinding dengan musik modern. Kebetulan
kami punya konsep karinding dan teater yang kemudian kami meminta ijin
memainkannya kepada abah dan penonton, sekaligus memperkrnalkan musik karinding
yang berkolaborasi dengan seni teater modern.
Kurang
lebih pukul 20.10 karinding teatrikal kami mainkan, teater yang kami bawakan
bertema gunung yang sedikit demi sedikit di jajah dan di keruk kekayaan alamnya
oleh bangsa asing. Ada 3 instrumen dan satu lagu dalam konsep karinding dan
teater kami. Yang pertama instrumen HAMPURA EMAK milik KARINDING ATTACK ,
instrumen musik sunda milik KARINDING TARAWANGSA dan instrumen musik keras dari
kami sendiri, serta lagu penutup yaitu MANUNGGAL ING KAWULA GUSTI dari
KARINDING MILITAN.
Kami mulai
memainkan instrumen HAMPURA EMAK dan pemain teater juga mulai memasuki area
panggung, terdengar tepuk tangan penonton sangat meriah. Kami larut dalam
instrumen tersebut dan juga pemain teater
yang terbawa suasana instrumen yang slow tapi dalam. Pemain teater
menari-nari pertanda gunung yang senang dan gembira seolah memberi tahu kalau
gunung dahulu begitu tenang dan damai tanpa ada gangguan dari siapa pun.
2
setengah menit berlalu dan instrumen HAMPURA EMAK selesai yang kemudian
digantikan dengan instrumen dari KARINDNG TARAWANGSA yang mendayu-dayu. Disini
digambarkan keadaan gunung yang sedang diam dan tenang namun menyimpan
kekhawatiran kepada manusia yang semakin serakah dan seenaknya menggali
kekayaan alam tanpa ijin.
Musik
berhenti dan gunung terdiam, suara dari jijaridu menandai kedatangan manusia
serakah yang akan merusak dan memanfaatkan kekayaan alam seenaknya. Di
lanjutkan dengan suara KUMAWING dan celempung yang keras seoalah memberi tanda
awal dari sebuah kehancuran. Tak lama suara karinding yang full bit mengikuti
musik, kami semua kembali larut dalam suasana, tepuk tangan dari penonton
semakin keras ketika datang pemain teater yang menjadi tokoh antagonis mulai
memasuki panggung dan menganiaya gunung, gunung yang tidak berdaya hanya terdiam
ketika si antagonis dengan seenaknya menginjak dan mencuri kekayaan gunung.
Gunung menjerit musik semakin keras, menandai suasana hati gunung yang marah
dan tak pernah rela kekayaan alamnya di rusak. Si antagonis tertawa senang
setelah puas menyiksa gunung, dia berjalan mengelilingi gunung sambil sebtang
rokok dia nyalakan. Bersamaan dengan gunung yang mulai tak berdaya, musik pun
berhenti, beberapa detik yang kemudian di susul oleh lagu MANUNGGAL ING KAWULA
GUSTI yang menggambarkan keadaan alam serta gunung yang di rusak dan meminta
tolong kepada tuhan. Dipertengahan musik si antagonis membawa gunung keluar
panggung yang bertanda bahwa orang serakah hanya ingin memanfaatkan alam dan
setelah kekayaan alam habis maka dia akan membiarkan alam yang rusak dan pergi
tanpa rasa berdosa.Lagu yang kami bawakan selesai dan tepuk tangan penonton
kembali terdengar. Kami tak menyangka kalau sambutan warga cirebon terhadap
karinding akan semeriah itu, terima kasih untuk apresiasi nya, kepada abah
deden, ambu tisum, karinding akar awi dan seluruh warga cirebon yang sangat
bersemangat dan ramah.
Penampilan
kami selesai dan kami turun dari panggung pertunjukan. Semoga pesan kami bisa
sampai kepada penonton bahwa kita sebagai orang yang berbudaya harus bangga
dengan budaya kita khususnya dalam keseniannya yang bisa merasuk dalam jenis
musik apapun dan jaman apa pun. Juga pesan dari teatrikal kami bahwa kita harus
menjaga alam kita, jangan pernah mau memberikan alam kita kepada orang serakah
dan jangan menjadi orang serakah yang seenaknya merusak alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar