Senin, 23 Juni 2014

KARINDING SARASA : Grage city cirebon...

30 mei 2014
H-2  menuju acara grand opening grage city cirebon, konsep perform belum fix sempat membuat kami panik. Tapi dengan bantuan teman-teman dari komunitas kandang urang yang ada di desa majasuka akhirnya kami bisa membuat konsep yang sederhana tapi berisi.
Karinding sarasa feat. Teater kandang urang itu konsep perform kami di acara grand opening grage city cirebon pada tanggal 2 juni 2014.sempat khawatir juga dengan konsep tersebut, karena kami hanya punya waktu 2  hari untuk membuatnya. Dari  instrumen musik yang belum fix sampai anak teater yang belum sempat latihan sama sekali. Tapi alhamdulillah nya konsep tersebut bisa ditampilkan dan dapat menghibur penonton yang hadir.
Alur  perform ;
02 juni 2014 pukul 19.30 WIB kami tiba di grage city cirebon dan langsung chek sound sesuai instryksi dari abah deden selaku penyelenggara acara tersebut. Setelah chek sound yogi yang menjadi pembicara kami mengucapkan salam pembuka dan memperkenalkan dir, Setelah itu kami langsung memainkan instrumen pertama yaitu RAJAH. RAJAH sendiri kami belajar dari Karinding akar awi yang notabene menjadi guru kami dari nol.
Setelah rajah selesai kami di tantang abah deden untuk memainkan musik yang pop sunda. Sempat kaget juga dapat request dari abah, tapi tanpa banyak berfikir yogi langsung menginstruksikan kami untuk memainkan musik pop sunda yang berjudul KABAYA BEUREUM. Abah dan penonton ikut bernyanyi dan brgoyang (ngibing) mengikuti musik kami sampai selesai.
Tak terasa lagu KABAYA BEUREUM selesai kami bawakan dan tiba-tiba abah deden kembali meminta kami untuk memadukan musik karinding dengan musik modern. Kebetulan kami punya konsep karinding dan teater yang kemudian kami meminta ijin memainkannya kepada abah dan penonton, sekaligus memperkrnalkan musik karinding yang berkolaborasi dengan seni teater modern.
Kurang lebih pukul 20.10 karinding teatrikal kami mainkan, teater yang kami bawakan bertema gunung yang sedikit demi sedikit di jajah dan di keruk kekayaan alamnya oleh bangsa asing. Ada 3 instrumen dan satu lagu dalam konsep karinding dan teater kami. Yang pertama instrumen HAMPURA EMAK milik KARINDING ATTACK , instrumen musik sunda milik KARINDING TARAWANGSA dan instrumen musik keras dari kami sendiri, serta lagu penutup yaitu MANUNGGAL ING KAWULA GUSTI dari KARINDING MILITAN.
Kami mulai memainkan instrumen HAMPURA EMAK dan pemain teater juga mulai memasuki area panggung, terdengar tepuk tangan penonton sangat meriah. Kami larut dalam instrumen tersebut dan juga pemain teater  yang terbawa suasana instrumen yang slow tapi dalam. Pemain teater menari-nari pertanda gunung yang senang dan gembira seolah memberi tahu kalau gunung dahulu begitu tenang dan damai tanpa ada gangguan dari siapa pun.
2 setengah menit berlalu dan instrumen HAMPURA EMAK selesai yang kemudian digantikan dengan instrumen dari KARINDNG TARAWANGSA yang mendayu-dayu. Disini digambarkan keadaan gunung yang sedang diam dan tenang namun menyimpan kekhawatiran kepada manusia yang semakin serakah dan seenaknya menggali kekayaan alam tanpa ijin.
Musik berhenti dan gunung terdiam, suara dari jijaridu menandai kedatangan manusia serakah yang akan merusak dan memanfaatkan kekayaan alam seenaknya. Di lanjutkan dengan suara KUMAWING dan celempung yang keras seoalah memberi tanda awal dari sebuah kehancuran. Tak lama suara karinding yang full bit mengikuti musik, kami semua kembali larut dalam suasana, tepuk tangan dari penonton semakin keras ketika datang pemain teater yang menjadi tokoh antagonis mulai memasuki panggung dan menganiaya gunung, gunung yang tidak berdaya hanya terdiam ketika si antagonis dengan seenaknya menginjak dan mencuri kekayaan gunung. Gunung menjerit musik semakin keras, menandai suasana hati gunung yang marah dan tak pernah rela kekayaan alamnya di rusak. Si antagonis tertawa senang setelah puas menyiksa gunung, dia berjalan mengelilingi gunung sambil sebtang rokok dia nyalakan. Bersamaan dengan gunung yang mulai tak berdaya, musik pun berhenti, beberapa detik yang kemudian di susul oleh lagu MANUNGGAL ING KAWULA GUSTI yang menggambarkan keadaan alam serta gunung yang di rusak dan meminta tolong kepada tuhan. Dipertengahan musik si antagonis membawa gunung keluar panggung yang bertanda bahwa orang serakah hanya ingin memanfaatkan alam dan setelah kekayaan alam habis maka dia akan membiarkan alam yang rusak dan pergi tanpa rasa berdosa.Lagu yang kami bawakan selesai dan tepuk tangan penonton kembali terdengar. Kami tak menyangka kalau sambutan warga cirebon terhadap karinding akan semeriah itu, terima kasih untuk apresiasi nya, kepada abah deden, ambu tisum, karinding akar awi dan seluruh warga cirebon yang sangat bersemangat dan ramah.
Penampilan kami selesai dan kami turun dari panggung pertunjukan. Semoga pesan kami bisa sampai kepada penonton bahwa kita sebagai orang yang berbudaya harus bangga dengan budaya kita khususnya dalam keseniannya yang bisa merasuk dalam jenis musik apapun dan jaman apa pun. Juga pesan dari teatrikal kami bahwa kita harus menjaga alam kita, jangan pernah mau memberikan alam kita kepada orang serakah dan jangan menjadi orang serakah yang seenaknya merusak alam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar